Decision Support System??? Keknya keren… ^^


Terima Kasih Semester 6…

Akhirnya semester 6 ini hampir berakhir… Huh… (sambil ngelap keringet..untung keringet..bukan darah atau air mata..) secara semenjak semester 6 badan gw tambah kurus n kantong bawah kelopak mata tambah item gara-gara kurang tidur…

Tapi, gara-gara semester 6 juga, gw tambah ngerti TI n siap menghadapi dunia kerja amin… (KP aja belom hehehehe). Setaon lagi di TI… Gak terasa… amin mudah2an lulus dengan optimallah amin…

Oiye dari tadi ngalor-ngidul, tapi belom nyeritain DSS sendiri… Awalnya mau ngambil DSS aja ragunya setengah mati, mengingat takut dapet nilai jelek dll lah… (tau sendiri kan, ga bisa ujiannya langsung dapet C bo…horror bener kan). Tapi setelah diinget-inget, dengan ngambil kuliah DSS ini, gw dapet hikmah… Setiap orang setiap saat pasti penuh dengan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan itu harus diambil setepat mungkin supaya hasilnya juga baik dan gak mengecewakan. Untuk keputusan-keputusan yang crucial, orang sebetulnya bisa memanfatkan software buatan Thomas Saaty yang namanya Expert Choice kalo bentuknya AHP (Analytical Hierarchy Process) n Super decisions kalo bentuknya ANP (Analytical Network Process) dengan pembobotan (weighting) dalam setiap kriteria-kriterianya. Software ini bisa ngebantu orang ngambil keputusan dengan cepat dan tepat. Istilahnya tinggal ngebandingin tiap criteria, alternatif, subkriteria. Klik, klik, klik, eh muncul deh alternatif mana yang seharusnya kita pilih. Keren banget kan… ^^

Yang tentang analytical hierarchy process kan dah pernah gw posting sebelumnya. Sekarang gw jelasin aja tentang Analytical Network process dulu ya…

Analytical Network Process itu maksudnya Teori umum pengukuran relatif yang digunakan untuk mendapatkan skala rasio prioritas gabungan dari skala rasio individual yang mewakili pengaruh relatif dari faktor-faktor yang berinteraksi yang berkenaan dengan kriteria kontrol. Melalui supermatriksnya, yang tersusun dari matriks-matriks kolom prioritas, ANP menangkap hasil ketergantungan dan feedback dalam dan diantara cluster-cluster dari faktor-faktor. ANP lebih fleksibel dan komprehensif daripada metode tradisional dan model yang lalu. 

Metode Analytic Network Process (ANP) sebetulnya merupakan pengembangan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode ANP mampu memperbaiki kelemahan AHP berupa kemampuan mengakomodasi keterkaitan antar kriteria atau alternatif (Saaty, 1999). Keterkaitan pada metode ANP ada 2 jenis yaitu keterkaitan dalam satu set elemen (inner dependence) dan keterkaitan antar elemen yang berbeda (outer dependence). Adanya keterkaitan tersebut menyebabkan metode ANP lebih kompleks dibanding metode AHP.

Pembobotan dengan ANP membutuhkan model yang merepresentasikan saling keterkaitan antar kriteria dan subkriteria yang dimilikinya. Ada 2 kontrol yang perlu diperhatikan didalam memodelkan sistem yang hendak diketahui bobotnya.

ž  Kontrol pertama adalah kontrol hierarki yang  menunjukkan keterkaitan kriteria dan sub kriterianya. Pada kontrol ini tidak membutuhkan struktur hierarki seperti pada metode AHP.

ž  Kontrol lainnya adalah kontrol keterkaitan yang  menunjukkan adanya saling keterkaitan antar kriteria atau cluster (Saaty, 1996).

Udah jelas kan sekarang yang namanya ANP tu apaan hehe

Untuk ngebantu kita, lebih ngerti mengenai ANP, kita bisa baca di jurnal mana aja yang menggunakan aplikasi Superdecisions kayak jurnal yang gw ambil untuk tugas ke-8, yang judulnya An Analytic Network Process model for financial-crisis forecasting.

Dalam jurnal ini, penulis membuat multiple criteria decision making model with feedback untuk meramalkan krisis keuangan yang terjadi di US menggunakan ANP.  Model ini kemudian diback-tested untuk sebuah periode di awal tahun 90-an ketika ada krisis perbankan. Tidak bermaksud untuk mengevaluasi kemampuan forcaster, tapi untuk mengevaluasi potensi kekuatan  struktur model peramalan krisis, yang pada gilirannya digunakan untuk meramalkan keputusan pada waktu yang sebenarnya.  Pendekatan model ANP merupakan metode yang menjanjikan untuk meramalkan kemungkinan siklus yang disebabkan oleh kejadian.

Setelah ngerti cara bikin model di superdecisions (walopun sebetulnya gak ngerti2 amat konsepnya), gw bikin model:

1.       Goal : untuk memilih pasangan hidup

2.       Goal : untuk memilih outlet site yang terbaik.

Setelah itu, ada tugas lagi dimana kita harus mencari jurnal mengenai pengambilan keputusan dengan nmenggunakan model simulasi. Untuk tugas yang ini, gw ngambil jurnal yang judulnya Using Visual Interactive Simulation to improve decision-making in production system design.

Performance system produksi dalam bidang konstruksi dipengaruhi oleh variabilitas, saling ketergantungan, dan ketidakpastian. Model simulasi biasanya berguna untuk memodelkan perilaku dari system produksi dan mengerti efek-efek kombinasi dari factor-faktor tersebut. Sangat sedikit penggunaan  simulasi untuk desain sistem-sistem produksi yang sebenarnya. Penyebab utama dari persebarannya yang buruk adalah kurangnya kepercayaan diri and percepsi validitas pada model-model simulasi oleh decision decision-makers. Visual Interactive Simulation (VIS) adalah teknik yang mengintegrasikan model Matematika dan model simbol dengan model-model dengan runtime interaction dan real-time graphic yang menunjukkan hasil dari model kita. Pada jurnal ini, terdapat case study mengenai “when should external wall plastering start in order to reduce its lead time and, at the same time, to keep the crews in continuous flow?” Lalu, dengan menggunakan beberapa scenario, akan ketauan kapan sebetulnya waktu terbaik untuk memulai wall plastering untuk mengurangi lead time dan menjaga kru tetap continue flownya.


Contoh pengambilan keputusan menggunakan Expert Choice

Contohnya bisa diliat dibawah ini. Tujuannya misalnya Untuk memilih the best outlet site. Kriteria-kriterianya adalah: cost, competition, lokasi strategis, supply chain, dan security. Dengan subkriteria bisa dilihat di gambar di bawah ini yak…


Weighting in AHP (Pembobotan dalam AHP)

Analytical Hierarchy Process mengatasi masalah dengan pendekatan weight (berat) dan scores (nilai). Ini dilakukan dengan menyusun kompleksitas sebagai sebuah hierarchy dan mengukur skala rasio melalui pairwise relative comparisons. Penggunaan redundancy membolehkan prioritas yang akurat diambil dari verbal judgement. Kita dapat menggunakan kata-kata untuk membandingkan qualitative factor dan memperoleh ratio skala prioritas yang dapat dikombinasikan dengan faktor kuantitative.

Dengan menggunakan pairwise comparison process AHP, weight atau priorities didapat dari satu set judgment. Ketika sulit untuk membenarkan weight yang sewenang-wenang ditetapkan, sebenarnya relatif mudah berdasarkan data mentah, pengetahuan, dan pengalaman dari keputusan itu. Weight atau prioritas ini adalah pengukuran ratio level, bukan dihitung.

Study Case

Diasumsikan kita ingin menentukan the best retail site dalam sebuah area geografi untuk sebuah toko es krim kecil untuk anak kecil dan keluarga. Ada 3 alternative lokasi, yaitu suburban shopping center, main street, dan the mall. Perinciannya adalah sebagai berikut :

The Mall

This location would cost $75/sq. ft. per month. We would be in the main food area of a major suburban mall with 75 retail shops and three “magnet” stores (Sears and two large department stores). The mall is frequented by teens, young mothers, and families usually on weekend days and weekday nights. There are three ice cream stores at various locations within the mall.

Suburban Shopping Center

A vacant store location that was formerly a pizza shop is available for $28/sq. ft. per month in a neighborhood “strip” shopping center at a busy highway intersection. The area is populated with 45,000 (mostly middle income, young family) residents of a community who live in townhouses and single family dwellings. The strip center is constantly busy with retail customers of the major supermarket chain, a drug store, a hardware store, a hair stylist/barber shop, and several other small businesses sharing the location. No ice cream shops are located in the community

Main Street

For $50/sq. ft. per month we can locate our ice-cream store in the ground level of a large high rise office and retail complex. The shop would be in a moderately out of the way corner of the building. The majority of the people frequenting the building and the surrounding area are young professionals who are in the area Monday through Friday only. There is one ice cream store within a ten-block radius of this location.

Pairwise comparisons of the elements at each level of an Expert Choice model are made in terms of either:

• Importance—when comparing objectives or players with respect to their relative importance.

• Preference—when comparing the preference for alternatives with respect to an objective.

• Likelihood—when comparing uncertain events or scenarios with respect to the probability of their occurrence.

Pairwise comparisons are basic to the AHP methodology. When comparing a pair of “factors”, a ratio of relative importance, preference or likelihood of the factors can be established. This ratio need not be based on some standard scale such as feet or meters but merely represents the relationship of the two “factors” being compared.

Verbal judgments about the relative importance of each objective are shown in Figure 15. In this example, we judged COST to be moderately more important to us than VISIBILITY with respect to their parent node, the GOAL of CHOOSING THE BEST RETAIL SITE. In other words, it is moderately more important to us to have an affordable location than one that is highly visible. This judgment can be based on our intuition—we know that people will find our shop, due to other factors (promotion, word of mouth, and so on) even if the storefront lacks high visibility; or we can base our judgment on objective data. Our financial analysis, which includes the rent of the sites, makes it clear that COST is more important since we would be in financial difficulty if we were to choose the high visibility location which is very costly. Each objective is evaluated with respect to every other objective in a similar fashion, using relevant subjective or objective judgments. The result of these judgments is a prioritization (or weighting) of the objectives as shown in Figure below.


AHP (Analytical Hierarchy Process)

Tugas keempat gw mengenai AHP. Qta suru nyari apa siy AHP itu, step by stepnya, and benefitnya apaan ama contoh penggunaan AHP di Expert Choice. AHP adalah salah satu metode untuk mengambil keputusan, yang dikembangkan di Wharton School of Business oleh Thomas Saaty, yang memungkinkan si pembuat keputusan memodelkan sebuah problem yang kompleks dalam struktur yang hierarki (bertingkat-tingkat) yang menunjukkan hubungan antara goal, objectives (criteria), sub-objectives, dan alternatives. Lihat figure1

:

Step by Step in AHP:

1. Arranging the problem in a hierarchical fashion

2. Establish priorities

3. Each node is evaluated against each of its peers in relation to its parent node; these evaluations are called PAIRWISE COMPARISON

PAIRWISE COMPARISON are basic to the AHP methodology. When comparing a pair of “factors”, a ratio of relative importance, preference or likelihood of the factors can be established.

Three pairwise comparison modes:

§ Numerical judgments

are made using a nine-point scale, represent how many times one element is more important than another.

§ Graphical judgments

are made by adjusting the relative length of two bars until the relative lengths of the bars represent how many times more important one element is than the other.

§ Verbal judgments

are used to compare factors using the words Equal, Moderate, Strong, Very Strong, Extreme. Equal requires no explanation. Extreme means an order of magnitude – about 9 or 10 to 1. Judgments between these words, such as Moderate to Strong are also possible.

4. Synthesis

Once judgments have been entered for each part of the model, the information is synthesized to achieve an overall preference. The synthesis produces a report, which ranks the alternatives in relation to the overall goal. This report includes a detailed ranking showing how each alternative was evaluated with respect to each objective.

5. Sensivity Analysis

Sensitivity analyses can be performed to see how well the alternatives performed with respect to each of the objectives as well as how sensitive the alternatives are to changes in the importance of the objectives.

Benefit of AHP:

In summary, AHP makes it possible for executives to assimilate all the facts, weigh the pluses and minuses, reach, re-evaluate, and communicate their decision. Once an initial decision is made, it is not final; even a strong willed decision maker is subject to external pressures from special interest groups such as, suppliers, customers, employees, trade unions or politicians. Objectives that were thought to be central to a decision, may, under these outside influences, become less central or dominant and a re-evaluation becomes necessary. Gradually, priorities are changed until a new, re-shaped, decision emerges. Without a decision model audit-trails are lost and executives find it impossible to systematically review or retrace the steps and sub-decisions made in the decision process. The difficulty of conducting a proper review increases exponentially with the number of objectives.


Qualitative Decision

Untuk tugas ketiga Mata Kuliah Decision Support System, Qta disuru nyari jurnal tentang Qualitative Decision. Qualitative decision adalah Decision/keputusan yang diambil bukan berdasarkan angka/perhitungan apapun. Kayaknya si gitu… Tapi, sebetulnya gw juga ga begitu ngerti… Jurnal gw kali ini judulnya A Change in Climate? How State Regulators Are Making Decisions in Response to Global Warming. Jadi, intinya jurnal ini memaparkan bahwa Federal Amerika sangat lambat merespon perubahan lingkungan yang terjadi akibat Global Warming, makanya Negara-negara bagian Amerika mengambil langkah duluan untuk mengurangi climate change akibat Global Warming itu. Caranya dengan mempunyai statutory obligation yang mempertimbangkan masalah lingkungan. Berdasarkan hasil statistic menunjukkan bahwa negara bagian dengan statutory obligation (kita sebut dengan Enviro States), emisi CO2nya jauh lebih kecil daripada negara bagian yang tidak mempunyai statutory obligation (kita sebut dengan Non-Enviro States). Kesimpulannya, externalizing CO2 tidak bisa dipertahankan dan dilanjutkan lagi. Externalizing adalah biaya yang tidak dimasukkan/tidak diperhitungkan oleh orang yang menciptakan biaya tersebut. Daripada menunggu Congress untuk mengembangkan dan mengimplementasikan peraturan untuk seluruh negara bagian yang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, negara bagian sudah memulai proses internalizing biaya lingkungan dari Co2 yang dikeluarkan dari pembakaran bahan bakar fossil, seperti batu bara, gas alam, atau minyak bumi di pabrik untuk memproduksi listrik.


NPV (Net Present Value)

Tugas yang kedua nyambung ama yang pertama. Kalo yang pertama kan Qta suru nyari jurnal yang tentang decision making. Nah decision making itu pastinya pake berbagai metode kan. Nah tugas kedua tu Qta disuru jelasin metode apa yang dipake di jurnal yang pertama trus apa kelebihannya dibanding metode-metode yang lainnya. Karena tugas gw yang pertama pake NPV, makanya gw jelasin NPV dah sekarang. Metode NPV mengandalkan pada teknik arus kas yang didiskontokan. Untuk mengimplementasikan pendekatan ini, kita ikuti proses sebagai berikut : (1) Tentukan nilai sekarang dari setiap arus kas, termasuk arus masuk dan arus keluar, yang didiskontokan pada biaya modal proyek, (2) Jumlahkan arus kas yang didiskontokan ini, hasil ini didefinisikan sebagai NPV proyek, (3) Jika NPV adalah positif, maka proyek harus diterima, sementara jika NPV adalah negatif, maka proyek itu harus ditolak. Jika dua proyek dengan NPV positif adalah mutually exclusive, maka salah satu dengan nilai NPV terbesar harus dipilih .

Persamaan untuk NPV adalah sebagai berikut :

Di mana, CF = arus kas masuk dan arus kas keluar

K = biaya modal proyek

Alasan rasional untuk metode NPV adalah sangat jelas. Untuk menutupi kelemahan pada metode-metode lain. NPV sebesar nol menyiratkan bahwa arus kas proyek sudah mencukupi untuk membayar kembali modal yang diinvestasikan dan memberikan tingkat pengembalian yang diperlukan atas modal tersebut. Jika proyek memiliki NPV positif, maka proyek tersebut menghasilkan lebih banyak kas dari yang dibutuhkan untuk menutup utang dan memberikan pengembalian yang diperlukan kepada pemegang saham perusahaan. Oleh karena itu, jika perusahaan mengambil proyek yang memiliki NPV positif, maka posisi pemegang saham meningkat.

Salah satu keunggulan dari penggunaan NPV bahwa arus kas didasarkan pada konsep nilai waktu uang (time value of money). Maka sebelum penghitungan/penentuan NPV hal yang paling utama adalah mengetahui atau menaksir aliran kas masuk di masa yang akan datang dan aliran kas keluar. Baik tidaknya hasil analisa, akan tergantung pada ketepatan taksiran kita atas aliran kas. Di sini penaksiran dilakukan atas aliran kas, dan bukan keuntungan, karena kas merupakan faktor sentral dalam pengambilan keputusan investasi. Perusahaan melakukan investasi (mengeluarkan kas) dengan harapan menerima kas lagi dalam jumlah yang lebih besar di masa yang akan datang. Hanya penerimaan kas yang dapat diinvestasikan kembali atau dibayarkan sebagai deviden kepada para pemegang saham. Jadi kas, dan bukan keuntungan , yang penting di dalam penganggaran modal untuk berinvestasi. Di dalam aliran kas ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan : (1) Taksiran kas haruslah didasarkan atas dasar setelah pajak, (2) Informasi tersebut haruslah didasarkan atas “incremental” (kenaikan atau selisih) suatu proyek. Jadi harus diperbandingkan adanya bagaimana aliran kas seandainya dengan dan tanpa proyek. Hal ini penting sebab pada proyek pengenalan produk baru, bisa terjadi bahwa produk lama akan “termakan” sebagian karena kedua produk itu bersaing dalam pemasaran, (3) Aliran kas ke luar haruslah tidak memasukkan unsur bunga, apabila proyek itu direncanakan akan dibelanjai/didanai dengan pinjaman. Biaya bunga tersebut termasuk sebagai tingkat bunga yang disyaratkan (required rate of return) untuk penilaian proyek tersebut. Kalau kita ikut memasukkan unsur bunga di dalam perhitungan aliran kas ke luar, maka akan terjadi penghitungan ganda.

BERBAGAI PENERAPAN PENGGUNAAN NPV

Seperti telah diuraikan diatas bahwa, alat analisis NPV merupakan alat analisis terbaik dibandingkan dengan metode-metode lainnya. Maka dalam uraian selanjutnya akan diperjelas lagi keunggulan-keunggulan tersebut. Mudah-mudahan kita menjadi yakin bahwa penilaian investasi seharusnya menggunakan net present value, bukan metode-metode lainnya. Dalam hal ini akan dibicarakan berbagai contoh yang bervariasi untuk menggunakan metode NPV. Variasi-variasi yang akan dibicarakan adalah : masalah keterbatasan dana, masalah penggantian aktiva (replacement), inflasi pada

penilaian investasi. Yang sebenarnya banyak sekali kasus-kasus yang seharusnya menggunakan NPV. Dan jika dipaksakan menggunakan metode lain justru dikwawatirkan hasilnya tidak representatif.

(1). Keterbatasan dana

Apabila dana terbatas, yang ditunjukkan dengan adanya anggaran yang disediakan pada suatu periode tertentu, maka perusahaan terpaksa melakukan pengalokasian dana untuk usulan investasi yang ada. Pada kondisi adanya keterbatasan dana, tujuan perusahaan adalah memilih kombinasi berbagai usulan investasi yang memberikan NPV tertinggi, dengan segala keterbatasan dana yang ada. Apabila batasan dana ini benar-benar harus dipenuhi, mungkin sekali perusahaan lebih baik memilih beberapa usulan investasi kecil dari pada satu atau dua usulan investasi besar. Untuk batasan dana yang tetap untuk satu periode pada umumnya merupakan hal yang jarang terjadi. Jarang suatu perusahaan tidak mempunyai keluwesan dalam menentukan besarnya dana yang bisa disediakan pada suatu periode. Perlu diingat bahwa suatu proyek bisa menghasilkan kas selama proyek tersebut masih berjalan. Kas yang dihasilkan oleh proyek-proyek ini bisa dipergunakan pula untuk menambah anggaran yang diterapkan. Biaya bagi perusahaan yang mempunyai keterbatasan dana dapat dianggap sebagai kesempatan yang hilan karena perusahaan tidak dapat menjalankan proyek karena keterbatasan dana. Yang perlu disadari di sini bahwa adanya keterbatasan dana mengakibatkan kebijakan investasi yang kurang dari optimal. Sebab

perusahaan mungkin menilak investasi ayng mempunyai positif, hanya karena keterbatasan dana.


Decision Making Journal

Buat tugas pertama DSS, Pak Dachyar ngasi Qta tugas cari jurnal tentang Decision Making. Trus pas nyari gw dapet jurnal yang judulnya Investment Decision Making in an Entrepreneurial Firm: An Application. Setelah dibaca ternyata jurnal ini isinya tentang gimana si biasanya pengambilan keputusan investasi di perusahaan yang berskala kecil kayak perusahaan wiraswasta gitu. Hogaboom dan Shook (2004) menemukan bahwa teknik menghitung cashflow adalah criteria yang paling banyak digunakan dalam mengambil keputusan capital budgeting. Beberapa perusahaan yang lebih besar telah mulai menggunakan metode evaluasi yang lebih canggih, seperti Econimic Value Analysis. Keasey and Watson (1993) and McMahon et al. (1993) menemukan bahwa perusahaan kecil sering lalai dalam menggunakan teknik yang tepatketika mengevaluasi proyek. Dalam studi yang baru-baru ini oleh Danielson & Scott (2005), pemilik bisnis kecil lebih suka menggunakan unsophisticated project evaluation tools karena keterbatasan latar belakang pendidikan mereka, sedikitnya jumlah staf, dan liquidity concerns. Di jurnal ini juga ada contoh pengambilan keputusan investasi apakah seorang wirausahawan seharusnya membeli peralatan baru agar produksinya bisa meningkat 3 kali lipat atau tidak. Jawabannya Ya setelah dilakukan perhitungan cashflow dan NPVnya menghasilkan nilai yang positif.


About Decision Support System & Me

Pertama kali gw pingin ikut mata kuliah ini soalnya kata angkatan atas ntar belajar 3 software (Expert Choice, Super Decision, dll) gimana caranya pengambilan keputusan walaupun terus terang sebetulnya ada beberapa hal yang bikin hati gw ragu ngambil mata kuliah ini… tapi it’s okay lah! Bismillah aja… Sambil terus semangat!!! Blog ini berisi kumpulan tugas-tugas mata kuliah Decision Support System dan mudah2an bisa berguna buat loe-loe pada yang butuh bahan tentang Decision support System. Akhir kata Wassalam… Selamat menikmati =)